Rabu, 15 Juli 2009

MATERIALISME KEBUDAYAAN

MATERIALISME KEBUDAYAAN

(ASEP RAHMAT HIDAYAT. MAHASISWA JURUSAN SEJARAH UNJ)

1. HAKIKAT MATERIALISME KEBUDAYAAN

Materialisme didasarkan pada konsep bahwa dunia ini terdiri dari objek-objek materi yang berinteraksi dan berpotongan satu sama lain dalam berbagai keadaan, baik tetap maupun bergerak. Kaum materialis memandang manusia sebagai materi, realitas konkret, bersama dengan produk-produk pikiran manusia dan perilaku manusia, yang terdiri dari objek-objek fisik seperti peralatan dan benda-benda, dan produk pikiran seperti teknologi, ilmu pengetahuan, pengetahuan, nilai-nilai, hukum, agama, dan kebudayaan.

Daya tarik terbesar materialisme pada masa kini adalah pendekatannya yang sesuai dengan prinsip-prinsip teori dan metode ilmiah, yang berlandaskan pada data empiris untuk mendukung dan memverifikasi hipotesis-hipotesis dalam ilmu-ilmu social.

Materialisme kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari nama Marvin Harris. Materialisme kebudayaan didasarkan pada konsep bahwa kondisi-kondisi materi masyarakat menentukan kesadaran manusia, dan bukan sebaliknya. Harris sangat dipengaruhi gagasan Marxis tentang basis (base) dan suprastruktur (superstructure). Ia menyebut basis sebagai “infrastruktur”. Ia memodifikasi skema Marxis dengan memasukkkan unsur reproduksi manusia ke dalam basis (infrastruktur), bersama-sama dengan mode ekonomi dari produksi. Selain itu, ia juga mengusulkan suatu kategori “antara” (intermediate category), yakni struktur (structure), di antara basis dan suprastruktur, suatu kategor yang tidak terdapat dalam skema Marxis.

Harris memandang ketiga kategori tersebut, yaitu basis, struktur, dan suprastruktur, sebagai fenomena etik. Artinya ketiga kategori tersebut dapat ditemukan oleh ahli ilmu sosial yang menelitinya sebagai ilmuwan. Suprastruktur mengandung fenomena etik maunpun emik. Fenomena emik adalah komponen mental dalam pikiran orang-orang yang merupakan anggota suatu kebudayaan atau masyarakat, yang memandang diri mereka sendiri dan dunia dari perspektif spesifik mereka sendiri, atas dasar nilai-nilai, pengetahuan, dan sikap yang dipelihara dalam kebudayaan. Bahasa adalah suatu kategori yang terpisah dari semua kategori lainnya, yang menurut Harris berperan sebagai instrumen untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan basis, struktur, dan suprastruktur. Karena itu, bahasa memberikan suplai dan termasuk ke dalam ketiga kategori, karena semua perilaku sosial manusia berimplikasi terhadap penggunaan bahasa.

Materialisme kebudayaan Harris dilandasi Marx, tetapi berbeda dari Marxisme ia sangat menganjurkan agar memberikan prioritas bagi suatu strategi penelitian yang terdiri dari: berawal dari kajian mengenai basis (infrastruktur), kemudian struktur, dan akhirnya suprastruktur. Perbedaan yang lain antara Marxisme dan materialisme kebudayaan adalah materialisme kebudayaan mengemukakan hipotesis bahwa peilaku manusia dikontrol oleh persyaratan kebutuhan protein, energi, atau faktor-faktor alamiah lainnya. Metodologi materialisme kebudayaan terletak pada metode ilmiah dan aturan-aturannya dalam menghimpun data, memverifikasi hipotesis, dan mengembangkan analisis logika dan pembuktian yang tepat.

Prinsip umum yang harus dipegang mengenai Materialisme Kebudayaan adalah “budaya dikembangkan oleh suatu masyarakat berdasarkan pada materi (benda) yang dimilikinya”. Selain itu, Materialisme Kebudayaan berbanding lurus dengan benda-benda yang dimiliki suatu masyarakat dalam suatu wilayah tertentu dan kebudayaan berkembang seiring dengan berkembangnya pemikiran manusia.

2. PRINSIP – PRINSIP MATERIALISME KEBUDAYAAN

Struktur universal sistem sosial budaya yang dikonsepsikan oleh materialisme kebudayaan terletak pada konstanta biologi dan psikologi dari hakikat alamiah manusia, dan pada pembedaan antara pikiran dan perilaku, emik, dan etik. Pertama, setiap masyarakat harus menghadapi masalah produksi. Kedua, setiap masyarakat harus menghindari masalah reproduksi, menghindari peningkatan atau pengurangan jumlah dan ukuran penduduk yang bersifat menganggu atau merusak. Ketiga masyarakat harus menghadapi masalah perlunya memelihara hubungan-hubungan perilaku yang teratur dan aman di kalangan kelompok-kelompok penyusunnya dan dengan masyarakat lainnya. Keempat, anggaplah pentingnya bahasa dan proses simbolik bagi psike manusia, orang dapat menyimpulkan adanya keberulangan universal dari perilaku produktif yang menuju kepada produk dan servis etik, erekreasi, sportif, dan estetik.

Kategori-kategori perilaku etik utama bersama dengan beberapa contoh fenomena sosial budaya yang termasuk ke dalam setiap domain (ranah) adalah :

v Mode Produksi

Teknologi dan praktik-praktik yang digunakan untuk memperluas atau membatasi produksi subsistensi dasar, khususnya produksi makanan dan bentuk-bentuk energi lainnya. Perhatikan misalnya hambatan dan kesempatan yang timbul karena interaksi teknologi spesifik tertentu dengan habitat tertentu.

§ Teknologi subsistensi

§ Hubungan tekno-lingkungan

§ Ekosistem

§ Pola-pola kerja

v Mode Reproduksi

Teknologi dan praktik-praktik yang diterapkan untuk memperluas, membatasi, dan mempertahankan ukuran populasi.

§ Demografi

§ Pola-pola perkawinan

§ Fertilitas, natalitas, dan mortalitas

§ Pengasuhan anak

§ Pengendalian medis atas pola-pola demografi

§ Kontrasepsi, aborsi, infantisida.

v Ekonomi Domestik

Pengorganisasian reproduksi dan produksi dasar, tukar-menukar, dan konsumsi dalam rumah tangga, apartemen, atau tatanan domestik lainnya.

§ Struktur keluarga

§ Pembagian kerja domestik

§ Sosialisasi domestik, enkulturasi, pendidikan

§ Peranan usia dan jenis kelamin

§ Displin domestik, hierarki, sanksi.

v Ekonomi Politik

Pengorganisasian reproduksi, produksi, pertukaran dan konsumsi dalam dan di antara band-band, desa-desa, chiefdoms, negara, dan kerajaan.

§ Organisasi politik, faksi, klub, asosiasi, korporasi

§ Pembagian kerja, pajak, dan pungutan

§ Sosialisasi politik, enkulturasi, pendidikan

§ Kelas, kasta, hierarki kota-desa

§ Displin, kontrol polisi/tentara

§ Perang

v Suprastruktur Perilaku

§ Seni musik, tari-tarian, sastra, periklanan

§ Ritual

§ Olahraga, permainan, hobi

§ Ilmu pengetahuan

Marvin Harris dapat menyederhanakan kategori-kategori di atas dengan menghubungkan mode produksi dan reproduksi bersama di bawah rubrik infrastruktur, dan menggabungkan ekonomi domestik dan ekonomi politik di bawah rubrik struktur. Maka, terbentuklah skema tripartit sebagai berikut :

Infrastruktur (produksi dan reproduksi)

Sturktur (ekonomi domestik dan ekonomi politik)

Suprastruktur (suprastruktur perilaku)

3. KRITIK TERHADAP MATERIALISME KEBUDAYAAN

Materialisme Kebudayaan dikritik terutama karena konsentrasinya pada infrastruktur sehingga tampak mengecilkan arti penting ideologi dan kegiatan politik sebagai kekuatan perubahan (determinisme Infrastruktur). Terhadap kritik ini, Harris mengatakan bahwa ia tidak dapat menolak peranan aktivisme politik dalam mengubah sistim sosial. Ia juga memandang ideologi memiliki peran dalam proses percepatan atau perlambata bagi perubahan dalam infrastruktur. Namun, ia menegaskan bahwa apabila kondisi-kondisi dalam infrastruktur tidak matang, maka tidak akan ada aktivisme politik yang embawa perubahan.


4. DAFTAR PUSTAKA

- Bakker, J.W.M. Filsafat Kebdayaan Sebuah Pengantar. Yogyakarta : Kanisius. 1984.

- Havilland, William A. Antropologi. Jakarta : Erlangga. 1995.

- Kessing, Roger M. Antropologi Budaya : Suatu Perspektif Kontemporer Jilid II. Jakarta : Erlangga. 1992.

- Saifudin, Achma Fedyani. Antropologi Kontemporer : Suatu Pendekata Terhadap Realitas Sosial. Jakarta : Rajawali Press. 1993.

1 komentar: