Rabu, 15 Juli 2009

SEJARAH MARITIM NUSANTARA PART III

SEJARAH MARITIM DI NUSANTARA

PADA MASA KOLONIAL PART III

(ASEP RAHMAT HIDYAT, MAHASISWA SEJARAH, UNJ)

A. BANGSA BELANDA

Ada dua faktor yang mempengaruhi bangsa Belanda dalam mencapai kemakmuran di bidang maritimnya. Yang pertama adalah bidang agama (dalam hal ini adalah Protestanisme / Puritans) dan yang kedua adalah faktor geografis. Faktor agama mempengaruhi bangsa Belanda untuk mencapai kemakmuran dirinya dengan dilatarbelakangi oleh ajaran Protestan atau Puritanisme yang mengajarkan kebebasan untuk setiap individu mendapatkan kemakmuran dan melakukan hal yang berguna bagi Tuhan dan berguna bagi sesama manusia maka timbullah Merkantilisme dan Kapitalisme yang mempengaruhi kegiatan perdagangan maritim Belanda.

Faktor yang kedua adalah geografis, disebabkan oleh faktor geografis yang dimiliki oleh Kerajaan Belanda kurang menguntungkan karena wilayah daratannya kecil maka sifat kerja keras dan hemat pun menjadi cikal bakal etos kerja dan pedoman hidup bagi bangsa Belanda khususnya para Pelaut Belanda itu sendiri untuk mengembangkan jiwa pelautnya karena lewat laut mereka dapat mengembangkan perekonomian negeri mereka sebagai contoh dari semangat dan etos kerja mereka yaitu Bangsa Belanda pandai membuat Kapal-kapal Laut yang kokoh dan kuat dalam menjelajahi perairan laut maupun samudera tidak ketinggalan para pelautnya yang sangat tangguh di lautan.

Selain dua faktir tadi ada faktor yang lain yaitu, pada saat itu Belanda sedang terlibat perang kemerdekaan dengan Spanyol, sehingga Belanda membutuhkan biaya untuk perang dan menghidupi negaranya. Selain itu juga Lisabon yang menjadi tempat Belanda berdagang ditutupoleh Spanyol, sehingga mau tidak mau Belanda harus keluar mencari sendiri kebutuhannya.

Komoditi awal yang utama dalam perekonomian maritim Belanda adalah keju dan mentega, harga dari kedua komoditi tersebut telah menyamai perdagangan rempah-rempah di pusat perdagangan Antwerpen, Belgia. Yang tidak kalah pentingnya adalah industri perikanan ikan Haring dimana pada waktu itu tiga juta ekor Haring ditangkap setiap tahunnya dan berbagai kota di Belanda pun sangat bergantung kepada perikanan Haring sehingga industri perikanan itu disebut sebagai “Tambang Emas” bagi Bangsa Belanda.

Perdagangan garam dan gandum adalah komoditi maritim yang dikembangkan oleh bangsa Belanda berikutnya. Garam dibutuhkan oleh Belanda untuk pengawetan ikan Haring mereka, setelah beberapa lama bergantung kepada impor garam dari Perancis dan Spanyol akhirnya Belanda pun melakukan inisiatif untuk menjemput seniri garam-garam mereka butuhkan di daerah Santa Maria dan San Huar. Beberapa Tahun kemudian Belanda pun mulai mengembangkan pabrik-pabrik garamnya sendiri di sekitar kota-kota perikanan Belanda.

Jalur maritim yang dilalui oleh Kerajaan Belanda sebelum kemunculan dari VOC adalah hanya disekitar perairan Eropa. Mulai dari Laut Baltik dimana Bangsa Belanda membeli gandum untuk kehidupan mereka pada negara-negara Skandinavia, perairan Semenanjung Iberia (Lisabon, Santa Maria dan San Huar) untuk mengambil garam dan membeli rempah-rempah di Pusat perdagangannya di Lisabon,sampai dengan Laut Tengah untuk menjual gandum-gandum yang mereka miliki untuk membantu Italia yang pada saat itu dilanda Kelaparan. Setelah Lisabon ditutup untuk para pedagang Belanda, para pelaut Belanda akhinya pun menjelajah sendiri ke arah Asia khususnya Nusantara melalui Tanjung Harapan di Pantai Selatan Afrika untuk mendapatkan sendiri rempah-rempah untuk kebutuhan hidup mereka dan hal inilah yang menjadi titik tolak berdirinya VOC.

B. PERKEMBANGAN SEJARAH MARITUM MASA MASUKNYA BANGSA-BANGSA EROPA KE NUSANTARA

Timbulnya kolonialisme atas nusantara (kelak di sebut Indonesia) diawali ekspansi bangsa-bangsa Eropa ke Seluruh Dunia. Negara-negara Eropa yang melakukan pelayaran samudera dan kolonisasi memiliki latar belakang dan tujuan ayang berbeda-beda yang telah di jelaskan diatas. Setelah bangsa Eropa sampai di nusantara maka mereka melakukan penetras-penetrasi terhadap kekuatan yang ada di daerah yang mereka datangi.

  1. Maritim Di Nusantara Sebelum Kedatangan Bangsa Barat.

Sebelum masuknya pedagang Eropa ke Nusantara, kemaritiman di Nusantara berkembang dengan adanya kota-kota pelabuhan yang dijadikan tempat transaksi perdagangan. Dengan jalur Selat Malaka merupakan jalur pelayaran terpenting pada saat itu. Banten, Demak, Malaka, Samudra Pasai, merupakan kerajaan-kerajaan yang memiliki pelabuhan-pelabuhan dagang yang cukup berkembang. Dan menjadi tolak ukur perkembangan kemaritiman di nusantara pada masa itu.

  1. Maritim Di Nusantara Masa Portugis dan Spanyol

Sebelum kedatangan bangsa Portugis dan Spanyol, di nusantara telah timbul kota-kota dagang (Emporium) yang satu sama lainnya saling berhubungan dan menjalin hubungan perdagangan. Baik di wilayah Jawa, Sumatera atau bahkan Nusantara Bagian Timur (Spice Island). Yang pada umumnya melakukan pelayaran di wilayah Pantai Timur Sumatera (Sumatera), Pantai Utara Jawa (Jawa).

Setelah kedatangan Portugis ke Malaka, dan dikuasainya Malaka oleh Portugis pada tahun 1511. dan terus melakukan pelayaran sampai ke Maluku. Hal ini tentu saja merubah perkembangan kemaritiman di wilayah Nusantara. Yang tadinya Pantai Timur Sumatera di jadikan jalur utama pelayaran dan jalur perdagangan utama, beralih menjadi ke Pantai Barat Sumatera. Maka dengan hal itu, pelabuhan / kota-kota dagang yang ada di wilayah Pantai Barat Sumatera mengalami kemunduran.

Maluku atau “Spice Island” merupakan tujuan utama Portugis, dimana Malaka pada tahun itu telah mengalami kemunduran atas apa yang telah dilakukan Portugis, tahun 1512 Francisco Serrao melakukan penelitiannya dan berhasil sampai di Hitu (Ambon Utara). Kedatangan Portugis ini, menjadi rebutan antara Ternate dan Tidore untuk menjalin kerja sama dengan Portugis. Akhirnya Portugis menjalin kerja sama dengan Ternate dan 1522 membangun benteng di sana. Tetapi tahun 1575 Portugis di usir dari Ternate karena politik perdagangannya.

Pada tahun 1521 orang-orang Spanyol datang dengan dua buah kapal melalui Filipina, Kalimantan Utara ke Tidore, Bacan dan Jailolo. Dan mereka di terima dengan baik oleh penguasa setempat, dan sampai tahun 1534 kapal-kapal dagang Spanyol masih mengunjungi Maluku. Kedatangan Spanyol ini tentu saja merupakan berita yang kurang baik bagi Portugis, karena Portugs sekarang memiliki saingan dalam usahanya memonopoli rempah-rempah di Maluku. Dan karena sifat Portugis yang telah di ketahui oleh orang-orang Maluku, akhirnya Portugis kehilangan hagemoninya di Maluku dan pergi ke wilayah Lei Timor.

Secara umum kedua bangsa Eropa itu datang ke Nusantara adalah untuk mencari rempah-rempah. Dengan system monopoli yang mereka jalankan mereka bias mendapatkan rempah-rempah dengan melimpah dan dijual langsung di Eropa dengan harga tinggi.

  1. Maritim Di Nusantara Masa Belanda

Sejak akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 tiba gilirannya orang-orang Belanda, Inggris, Denmark dan Perancis datang ke nusantara. Motif kedatangan bangsa Belanda ini adalah motif ekonomi dan petualangan. Belanda mendarat di Banten di bawah Cornelis de Houtman pada tahun 1596. Di daerah Jawa, Belanda tidak terlalu di terima dengan baik. Tetapi setelah Belanda sampai di Maluku, merupakan hal penting bagi perkembangan kemaritiman di nusantara.

Belanda mendirikan konmgsi dagang yang diberi nama VOC pada tahun 1602 yang memiliki hak Ooctroi dari Ratu Belanda. VOC disini bertujuan untuk menjalankan politik monopoli perdagangan rempah-rempah di nusantara. Dan salah-satu politik pelayuaran yang terkenal dari Belanda adalah Politik Pelayaran Hongi. Pelayaran Hongi adalah pelayaran yang dilakukan oleh VOC untuk mencegah pelanggaran monopoli yang dilakukan oleh Belanda. Selain itu juga, Belanda melakukan sentralisasi penanaman rempah-rempah. Dimana hanya wilayah tertentu saja yang diaperbolehkan untuk menanam rempah-rempah misalnya Ambon, ini untuk memudahkan pengawasan VOC atas rempah-rempah di Spice Island.

Pada tahun 1619 VOC, menaklukan Jakarta dan merebutnya dari tangan Pangeran Wijayakrama. Setelah Jakarta berhasil ditaklukan maka, VOC mendirikan kantornya di Jakarta, hal ini untuk membendung politik Ekspansi Sultan Agung untuk menguasai seluruh Jawa, yang dikhawatirkan oleh VOC dapat menyaingi VOC.

Pengaruh VOC dalam pelayaran niaga di Samudera Hindia pada umumnya dan Nusantara pada khususnya adalah untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari perdagangan rempah-rempah, VOC menguasai kota-kota pelabuhan pengekspor rempah-rempah, dan menghalangio para pedagang asing yang ingin berdagang rempah-rempah di nusantara. Melalui “administrative trade” dan “armed trade” yang dijalankan sangat evektif oleh VOC sehingga berhasil mengorga-nisasikan nusantara dari pelayaran samudera.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar